Revolusi Mental Pecinta Alam

375563_289721817716199_1438877701_n

BUKALAH facebook, lalu kunjungilah grup-grup pecinta alam. Namun sebelum kesana, buru-buru saya menyarankan, jangan terlalu berharap akan mendapat pencerahan melalui diskusi seru tentang pasang surut dunia pecinta alam, masalah pencemaran, illegal loging ataupun bedah wacana seputar membangun karakter bangsa. Jika itu harapan anda, bersiaplah-siaplah gigit jari.

Pasalnya, wacana semacam itu lumayan langka diangkat di grup pecinta alam. Kalaupun ada, yang tertarik mengkritisinya hanya beberapa orang. Itupun cenderung dengan baku komentar sekenanya, dan tentu saja tak ada konklusi berbobot untuk ditindaklanjuti.
Pemandangan yang mendominasi di grup pecinta alam – baik yang anggotanya mencapai ratusan maupun diatas dua puluh ribu orang adalah aneka rupa dagangan online. Mulai sepatu gunung berbagai merk, tenda segala ukuran, t-shirt, baju, jaket, ransel, kompas hinga ke asesoris seperti kalung logam dan gelang prusik warna-warni.
Kemudian, di grup-grup itu juga akan terlihat rupa-rupa tawaran traveling. Mulai dari piknik ke gua-gua. wisata gunung, paket arung jeram, jalan-jalan ke hutan, bermalam di tepi danau. Bahkan sampai ke wisata kuliner lengkap dengan daftar menunya. Semua ditawarkan secara rinci sampai ke tingkatan potongan harganya.
Pendeknya, jika datang ke grup-grup pecinta alam di dunia maya, pengunjung akan semakin mendapat pembenaran bahwa pecinta alam memang tak lebih dari komunitas wisatawan belaka, sekaligus pasar potensial untuk memasarkan aneka produk industri pariwisata serta barang-barang yang membuat pecinta alam nyaman jalan-jalan.
Kering Makna
Sangat mencemaskan mendapati realitas diatas. Karena aktivitas pecinta alam telah bergeser menjadi wahana hiburan untuk mengisi liburan. Bukan sebagai sarana pendidikan. Apalagi sebagai kawah yang menggodok manusia biasa menjadi yang berkarakter kuat. Padahal Pecinta alam dilahirkan, sejatinya sebagai media membangun karakter manusia.
Faktor penting yang membuat kelompok pecinta alam begitu mudah meninggalkan “fitrahnya” sebagai media pembelajaran, untuk kemudian migrasi menjadi kelompok wistawan adalah karena kurang kuatnya menanankan akar pemahaman makna pecinta alam itu sendiri.
Hampir semua kelompok pecinta alam – baik yang berbasis di kampus maupun di luar — menempatkan materi kepecintaalaman di daftar materi tambahan alias topik yang kurang penting di Pendidikan Dasar-nya (Diksar). Kandungan materinya hanya memuat riwayat hidup kelompoknya lalu ditambah dengan sejarah dan pengetahuan kepecintaalaman yang bersifat umum. Itupun disampaikan sekenanya dan nyaris tanpa pembahasan menyeluruh apalagi mendalam.
Sementara, materi fisik semisal mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram dan lain sebagainya, di tempatkan di posisi materi pokok yang tentu saja disampaikan secara utuh, durasi lebih lama serta dilengkapi simulasi di lapangan. Peserta Diksar diwajibkan mengikuti materi ini secara utuh dan lengkap. Bahkan agar fokus tak jarang peserta yang tak serius diganjar dengan push up, scoth jump ataudihukum lari-lari mengitari area tempat materi praktek.
Efek jangka panjang dari skenario penempatan materi penting – tidak penting seperti diatas, akan membuat setiap pecinta alam akan berpersepsi bahwa kegiatan fisik – mendaki, manjat itu – merupakan roh kegiatan pecinta alam. Karenanya harus diutamakan dan didominankan. Inilah yang kemudian membuat pecinta alam lebih termotivasi menjadi pemanjat tebing yang lincah, penjelajah gua yang penuh waspada atau malah menjadi pendaki konyol yang berani mati.
Persepsi itu tentu keliru, dan karena berangkat dari keliru persepsi itu pula, pecinta alam dalam melakukan aktivitas alam bebasnya terbatas pada tataran fisik semata. Pecinta alam ke gunung hanya karena ingin mendaki. Berkompetisi mendatangi puncak tertinggi. Demi kejayaan nama kelompoknya semata. Atau menjadi turis penikmat alam seperti yang disinggung diatas.
Mereka tidak menyertakan misi edukasi di setiap misinya ke gunung, ke tebing, ke gua atau ke arus sungai liar. Akibatnya, bergiat di alam menjadi aktivitas yang kering makna, tanpa pemahaman filosofis, serta terputus dari kontribusi membangun karakter positif pelakunya. Inilah yang dikecam pendaki dunia kelas seven summit asal kanada Pat Morrow.
“Mereka tidak belajar apa – apa dari pendakiannya sendiri”, kecam Pat kepada pendaki yang cuma menganggap naik gunung sebagai aktivitas fisik belaka, jalan-jalan atau lebih parah lagi, sebagai upaya penaklukkan terhadap alam.
Membangun Karakter
Sesuai dengan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Kendati Kode Etik Pecinta Alam lebih dulu lahir, tepatnya 1974, namun agenda yang diusungnya berdekatan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional tersebut, yaitu melahirkan manusia berkarakter baik, religius serta kental dengan semangat pengabdian dan spirit perdamaian. Agenda besar ini tidaklah mengada-ada, karena, seperti yang disampaikan Ki Hajar Dewantara : pendidikan dapat diperoleh melalui sekolah, keluarga dan pergerakan. Kegiatan kepencintalaman merupakan wadah pendidikan berbentuk pergerakan tesebut.
Dengan pergi ke alam, pecinta alam akan belajar berbagai hal. Belajar mengenal diri sendiri, orang lain, lingkungan serta belajar mengenal tanah air sekaligus memahami rakyatnya. Seperti yang disampaikan pendiri pecinta alam, Soe Hok Gie, “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”.
Senada dengan Soe Hok Gie. Pendaki kaliber internasional asal Itali Walter Bonatti juga berpendapat alam merupakan tempat belajar yang baik. Aku percaya kata Bonatti, bahwa, “Alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar kita. Karena itu aku percaya bahwa gunung beserta hukum-hukum yang ada padanya merupakan sekolah yang baik untuk mengubah watak manusia”.
Dengan demikian, mereka yang beraktivitas di alam bebas, akan berkarakter baik sehingga memiliki kesadaran untuk mengabdi kepada Tuhan, bangsa dan tanah air. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya. Berusaha mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam sesuai asas pecinta alam. Berusaha saling membantu serta saling menghargai pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa. (Kode Etik Pecinta Alam).
Reorientasi Makna Pecinta Alam
Karena sudah sangat terang benderang bangsa ini mengalami degrdasai mental. Sekarang ini, aksi kepedulian kepada sesama dan lingkungan hidup menjadi sebuah tindakan yang dianggap aneh. Sikap saling menghargai dan semangati menjadi sesuatu yang makin sukar ditemukan di kehidupan sehahttp://www.stampara.or.id/wp-admin/post-new.phpri-hari. Bahkan, bersikap jujur dinilai sebagai perilaku menyimpang.
Dengan membangun manusianya maka disetiap jiwa anak bangsa akan tersemai karakter positif yang ditandai dengan adanya sikap, perilaku dan budi pekerti yang baik. Misalnya bersikap ksatria, religius, jujur, saling menghormati, tidak cepat putus asa, sopan dan santun, peduli, rela berkorban, serta berpikir ke depan untuk kemajuan bersama.
Terhadap gerakan revolusi mental, sepantasnya pecinta alam mendukung secara proaktif. Pecinta alam sendiri mentalitasnya sudah tergerus sehingga kegiatannya tak lagi mencerminkan aktivitas membangun karakter seperti yang dulu digagas Soe Hok Gie.
Agar dukungan nyata tersebut berjalan optimal, maka tindakan dasar yang harus dilakukan pecinta alam adalah melakukan revolusi mentalnya sendiri dulu, dan aksi ini dapat diawali dengan reorientasi atau pemahaman kembali makna pecinta alam. Karena bagaimana akan berkontribusi memperbaiki mental bangsa jika pecinta alam masih menjadi bagian dari krisis mental itu sendiri.
Reorientasi dapat dimulai dengan pertama, menjadikan materi kepecintaalaman sebagai menu utama Diksar. Kandungan materinya tidak parsial, namun harus holistis, mulai dari gagasan awal yang menjadi embrio lahirnya pecinta alam, visi dan misi ke depan, pergolakan pemikiran di kalangan pecinta alam Indonesia, hingga ke dinamika organisasi tempat pecinta alam peserta DIKLATSAR bergabung.
Pecinta alam haruslah memahami sejarahnya secara komplit, baik dan benar, karena seperti yang dikatakan Koentowijoyo, dengan belajar sejarah seseorang akan senantiasa berdialog antara masa kini dan masa lampau sehingga bisa memperoleh nilai-nilai penting yang berguna bagi kehidupannya. “Nilai-nilai itu dapat berupa ide-ide maupun konsep kreatif sebagai sumber motivasi bagi pemecahan masalah kini dan selanjutnya untuk merealisasikan harapan masa yang akan datang”, begitu kata Koento.
Materi Kepecintalaman hendaknya disampaikan secara dogmatis, ini dimaksudkan agar “faham” pecinta alam benar-benar dipahami dan mengakar kuat di diri pecinta alam, sehingga menjadi pola pikir dan “jiwa korsa” dalam beraktivitas di alam bebas. Lalu adakan pendalaman materi yang diperkaya dengan diskusi-diskusi serius yang berbobot. Tujuanya untuk merangsang lahirnya gagasan-gagasan baru yang berangkat dari kerangka pikir pecinta alam yang mungkin lebih kreatif dari gagasan yang pernah ada sebelumnya.
Kedua, di setiap aktivitas fisik mutlak pula dimuati dengan edukasi yang mengarah kepada pembangunan karakter. Kemudian di evaluasi setiap pendakian, pemanjatan dan sebagainya tidak sebatas berkutat di seputaran masalah teknis kegiatan. Melainkan dilebarkan hingga menyentuh kemampuan menggali makna-makna tersembunyi dari rangkaian proses aktivitas fisik tadi.
Hal itu dimaksudkan agar pecinta alam tidak saja mahir beraktivitas, melainkan juga cerdik menyiasati situasi dan cerdas membidik persoalan dari sudut pandang yang tidak umum. Mampu menguasai emosi dalam kondisi apapun. Terbiasa cepat mengambil keputusan taktis di situasi ekstrem. Serta mengasah kemampuannya membangun team work yang efektif dan efisien. Ketiga, melihat agenda besar dan tanggung jawab yang diemban pecinta alam, maka menjadi penting pula dilakukan penambahan pengetahuan di luar ilmu baku kepecintaalaman. Misalnya pengetahuan geografi, biologi, sosiologi, hukum lingkungan, metode penelitian, leadership dan sebagainya termasuk pengetahuan praktis menulis dan photografi.
Karena jamak terjadi, jika sebuah persoalan – ekonomi misalnya – tak akan dapat terpecahkan secara tuntas jika hanya menggunakan disiplin ilmu ekonomi saja. Perlu pendekatan disiplin ilmu lainnya. Sama halnya dengan pecinta alam, agar aktivitasnya berjalan tanpa kendala, berandil terhadap pembangunan bangsa, memberikan sumbangan pemkiran kepada dunia keilmuan, serta mampu berpartisipasi di wilayah praksis untuk memecahkan persoalan rakyat. Maka memperlajari disiplin ilmu lain menjadi sebuah keharusan.
Pungkas Wacana
Memang belum ada sensus spesial untuk menghitung jumlah kelompok pecinta alam di Indonesia. Namun, karena hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia memiliki Unit Kegiatan Pecinta Alam, jumlah pecinta alam di Indonesia, pastilah besar. Belum lagi jika ditambah dengan kelompok Pecinta alam yang bermarkas di luar Kampus serta di tingkatan Sekolah Pertama dan Menengah. Jumlah pecinta alam di Indonesia pastilah mencapai angka ribuan. Angka yang tidak kecil.
Diharapkan, melalui reorientasi tadi, penguatan edukasi di setiap kegiatan fisik serta pengayaan pengetahuan di luar basik kepecintaalaman, maka pecinta alam secara mental tentunya akan memiliki jangkar karakter yang kuat. Tidak menjadi kelompok besar bermental kecil. Kelompok yang selalu melihat kelompok lain sebagai pusat teladan, tanpa menyadari dan menghargai kelebihan-kelebihan kelompoknya sendiri. Atau sebaliknya,kelompok yang mengembangkan mentalitas jago kandang yang menolak belajar dari kelebihan kelompok lain.
Dengan tiga upaya itu pula, aktivitas pecinta akan menjadi wadah ideal untuk olah pikir, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Sehingga pecinta alam bukan hanya mengembalikan jati dirinya ke gagasan awal leluhurnya, namun dalam cakupan yang lebih luas pecinta alam secara otomatis telah pula memberikan sumbangsih terbaiknya dalam berpartisipasi menyembuhkan penyakit mental bangsa ini. Sebuah kontribusi yang sangat bermanfaat dalam mewujudkan cita-cita kolektif bangsa ini untuk hidup lebih baik di masa depan.
Tentu saja happy ending demikian akan terwujud jika pecinta alam mengubah dirinya. Jika tidak, ceritanya tentu akan lain. Karena, seperti kata Einsten, “Jangan mengharapkan hasil berbeda jika tetap menggunakan cara lama”.(AS)
Catatan ini dipost ulang dan dikutip dari artikel kompasiana 31 Oktober 2014
Bandung, 24 Maret 2016
B. Suryani