Meminimalisir Penggunaan Plastik Di Gunung

photo298795287486507081

Dalam pendakian gunung sering kali kita hanya fokus pada peralatan dan equipment pendakian lainnya, dan untuk logistik membawa bekal yang disuka atau sesuai selera, yang biasanya banyak makanan instant yang dibeli dari supermarket atau toko dan warung-warung terdekat. Sudah jelas bahwa makanan tersebut terbungkus oleh wadah aslinya yaitu kebanyakan adalah plastik-plastik.

Dalam suatu kesempatan penulis mengunjungi kembali tempat yang sudah tak asing lagi untuk sekedar bersua dan “niis” anak-anak STAMPARA biasanya, yaitu di “Singgasana” suatu puncakan bukit kebun teh yang ada di Sukawana, daerah cisarua Lembang.

Saat datang lagi kesana ada yang beda dari tempat yang sering kamu kunjungi tersebut, yaitu banyak sekali nyamuk dan lalat hijau yang berterbangan. Kebetulan malam hari kami kesana jadi ditengah kabut yang sedikit lebat pandangan kami agak kurang bisa melihat hal-hal tersebut namun memang sungguh terasa, karena memang sesering-sering nya kami kesana biasanya sangat jarang sekali ada nyamuk sebanyak itu dan apalagi ditambah Lalat hijau yang notabene nya suka sekali hinggap ke tempat yang jorok-jorok.

Saat pagi menjelang karena penasaran kami telusuri ternyata datangnya nyamuk dan lalat hijau nya tersebut berasal dari tumpukan sampah yang berserakan, memang karena hujan yang mengguyur yang tertampung oleh plastik yang ada seperti botol, kresek, gelas aku bekas, kaleng sarden, bungkus mie,dll sangat banyak berserakan sehingga banyak nyamuk yang hinggap, dan bekas makanan basah yang tersisa pun menjadi tempat lalat hinggap hingga sangat jijik dilihatnya.

IMG_9858

Salah satu tumpukan sampah

Untuk hal tersebut memang harus dimulai dari diri sendiri seperti hal untuk sadar tentang kecintaan dalam lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, dan yang terpenting menanamkan keyakinan diri bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman” dimanapun, kapan pun, dan dilakukan oleh siapapun.

Setelah dipikir-pikir untuk menanggulangi hal tersebut bisa saja diminimalisir dengan cara “Meminimalisir Pengguaan Plastik Di Gunung”. Hal tersebut bisa saja dilakukan dari penggunaan dan fungsi dari keseluruhan barang-barang dan logistik yang kita gunakan. mari kita review secara singkat :

  1. Penggunaan Botol untuk tempat minum.
    Untuk penggunaan botol tersebut memang tidak bisa dipungkiri karena air memang sangat dibutuhkan saat kita pendakian, namun kembali untuk minimalisir penggunaan plastik kita bisa mengakalinya dengan menggunakan botol minuman seperti tupperware atau lainnya. Dan untuk air mentahnya kita bisa menggunakan jerigen kecil sehingga nantinya tidak akan dibuang dan kita bisa gunakan kembali.
  2. Gelas pelastik untuk sekali pakai.
    Biasanya untuk menikmati malam ngopi atau sekedar ngeteh hangat malam hari memang sangat nikmat sekali dipegunungan, namun sering kali pendaki menggunakan gelas plastik sekali pakai yang dirasa lebih ringan dan sesudahnya dibuang, sehingga menimbulkan sampah kembali, sebaiknya bisa menggunakan gelas yang dibawa dari rumah sehingga sesudah penggunaan pun nanti kita bawa balik kembali.
  3. Bungkus makanan instan dan minuman sachet.
    Nah, kebanyakan sampah yang dihasilkan adalah dari bungkus makan atau minuman dari logistik yang sering dibawa pendaki yang sesudahnya dikumpulkan namun lupa untuk dibawa turun sehingga menumpuk digunung. Untuk meminimalisir tersebut seperti bahan makanan berat bisa dimasukan pada nesting atau alat masak yang memiliki rongga ditengahnya, seperti makanan lainnya bisa dimasukan ke tempat makan (misting).
  4. Plastik untuk pelindung pakaian.
    Untuk pakaian supaya tidak basah memang sering kali kita gunakan plastik untuk membungkus dan melindunginya dari hujan, jika digunakan terus hingga turun pendakian memang tak masalah namun bila pakaian sudah diganti kadang plastiknya pun jadi sampah kembali, dan hal tersebut bisa saja diakali dengan penggunaan “dry bag” yang sudah banyak dijual-jual di toko outdoor saat ini.

Setelah membaca review diatas mungkin sebagai pembaca pasti bakal beranggapan terlalu banyak modal untuk meminimalisir penggunaan plastik tersebut karena menggunakan banyak wadah dan tidak sepraktis plastik yang sering kita gunakan.

Namun apa yang harus kita upayakan lagi untuk tetap membuat alam kita yang kita cintai ini tetap bersih selain tetap mengusahakan menjaga lingkungan dan membawa sampah kita turun lagi ke bawah.

Jadi teringat kembali dulu kode etik yang selalu dijunjung para pendaki namun sering kali terlupakan karena rasa malas dan lainnya, kurang lebih bunyinya seperti ini :

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak
Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar

Dan Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu

Dan jika masih memilih ingin melibatkan plastik sebagai salah satu perlengkapan dalam pendakian, intinya satu yaitu “Bawalah kembali, dan jangan kau tinggalkan digunung”.

Kalau bukan kita mau siapa lagi, jangan hanya ingin eksis-eksis di media sosial dan menjadi puitis mengenai alam jika masih belum memaknai apa itu kecintaan terhadap alam nya itu sendiri, karena pernah dahulu orang bijak pernah berkata “Bahwa karena cinta itu perbuatan, jadi segala sesuatu yang mengatakan cinta dan teori apapun semua itu bullshit”.

“Mari menjaga alam kita dan lingkungan sekitarnya, cinta tak hanya dikata-kata, tapi ditunjukan oleh perbuatan dan timbul dari hati juga”
B.Suryani (STAMPARA)
STM Pembangunan Penjelajah Rimbaraya
20 Maret 2016