Kemudahan Beribadah Di Gunung

11412210_10200671286141889_6281793212058335371_n

– Berwudhu dengan air se-aqua gelas?
– Atau di botol air minum tanpa dibantu seseorang untuk menuangkannya?
– Berwudhu dengan mengusap khuf atau sepatu?
– Shalat dengan memakai sandal atau sepatu?
– Shalat langsung diatas tanah atau rumput tanpa alas?
– Istinja (cebok) dengan batu atau tissue?
– Tayammum dengan debu atau tanah?
– Shalat sambil duduk?
– Menentukan waktu shalat dengan perubahan alam?
– dll

Point-point  tersebut perlu dikuasai atau diketahui oleh seorang musafir, khususnya Pendaki Gunung. Karena ada kalanya amalan-amalan tersebut dilakukan jika dibutuhkan.

Itulah pentingnya berilmu sebelum berkata dan beramal. Jangan sampai kita beramal lebih dahulu, baru kemudian mencari ilmunya. Seseorang penuntut ilmu biasanya sudah menguasai point2 tersebut, jadi jika sewaktu-waktu dia safar atau mendaki gunung, maka dia tidak akan merasa kesulitan ketika mau beramal, karena dia sudah mengetahui ilmunya.

Begitu juga halnya dengan seorang pendaki yang meniatkan aktivitasnya untuk kebaikan diri dan agamanya. Jika sewaktu-waktu kondisi mengharuskan dirinya untuk pergi ke gunung, maka dia sudah memiliki ilmunya, fisiknya sudah terlatih, dan perlengkapan sudah memadai.

Mulailah dari sekarang disaat masih ada kemampuan dalam diri kita. Jika mereka saja mampu, kenapa kita tidak mampu? Kenapa kita menyerah sebelum mencoba?

Welcome to the jungle…

Bandung, 29 Maret 2016
STAMPARA
Post diambil dari catatan postingan kang Fitria Kurniawan

Leave a Comment