Catatan Perjalanan

catatan perjalanan stampara

  • Hilwan El Farhana – Balada Sang Penggerak

    IMG_9984

    HELLO GANK !!!

    Bermula dari sebuah teriakan yang membangunkan kami kala itu, masih dimedan yang sama, dalam gelapnya rimba dan beberapa desir angin halus menyapa menggetarkan tubuh kami, dalam tatapan yang tak begitu cukup jelas kami berbaris untuk persiapan kegiatan pendidikan yang kami ikuti.

    Dan memang hanya beberapa senior dan pelatih yang kami ingat diawal-awal mengikuti organisasi ini. Bermodalkan tas yang besar dan berat kami beriringan saling bersautan meneriakan lantang lagu penyemangat hingga sampai tujuan, dan selalu diawasi mata-mata jeli dari pelatih, materi dan pengaplikasian hingga istirahat makan sampai kami terlelap tidur tersebut.

    Hingga tak jarang kulihat muka angkuh dan sosok pemarah dari mereka dan selalu kuperhatikan salah satunya, ragu kutanya ingin lebih mengenal dirinya, terlihat mendominasi dari senior-senior lainnya dengan bertapakan langkah kaki yang keras dan suara desir napas disetiap pijakannya saat menemani pendidikan-pendidikan kami saat itu.

    Dan begitulah awal mula hingga kami berteman akrab hingga saat ini. Dialah “Hilwan” pemuda angkuh dengan seribu gaya pada jamannya. Menjadi sang ujung tombak STAMPARA pada angakatannya, bersama orang-orang yang telah dianggapnya saudara Devita, Rossy, Lies, Dani, Siti, Mia, Dewi, Salman, dan Riska. diketuai Hilwan El Farhana sebagai kepala suku Golok Petualang (STAMPARA Angkatan 17).

    Dan akhirnya saya tahu karenanya, untuk memimpin dalam berorganisasi memang harus melibatkan “cinta”, yang walau sebelumnya semua anggota kita tidak pernah tersatukan oleh satu keturunan, dan walau sebelumnya juga tidak pernah mempunyai satu ikatan kekeluargaan. Tapi mungkin takdir Allah yang menyatukan semua dengan visi yang sama dengan perantara didikan dinginnya hutan rimba, ganasnya badai puncak gunung, panasnya longmarch dari satu tempat ke tempat lainnya, dan yang lainnya yang membuat kita sadar betapa pentingnya kebersamaan dan kekeluargaan kita, dan walaupun tidak mendapat penghargaan berupa materi setidaknya semua pengalaman tersebut sungguh sangat berharga untuk kehidupan selanjutnya.

    10346227_10203770694448680_444895391905631436_n

    Bandung, 22 Juni 2016
    Motivasi berorganisasi hari ini
    Administrasi STAMPARA

    Leave a Comment
  • Lepaslah

    boksisuryani

    Terlepaslah sepatu yang telah lama berkelana
    Kulitnya coklat pekat menandakan perihnya perjalanan
    Talinya kuat oleh kebersama’an
    Tapaknya hilang tak menyisakan jejak

    Tanggalkan jaket lusuh penuh haru
    Tiap helai menahan derita
    Panas, dingin, tetap melekat pada tubuh rapuh
    Hujan badai tetap gagah melindungi kulit kusut
    Bau keringat pengelana bereda disana

    Celana tempur penuh lumpur
    Lumpur kehidupan yang memberi warna
    Warna tak berwarna memiliki makna
    Sobekan pejuang awal kemenangan

    Penutup kepala tetap di singgasana
    Menutupi otak yang sedang beku
    Kepala dan dia menyatu

    Akanku pejamkan mata
    Tidak lama, hanya beberapa waktu
    Ma’afkan daku cinta
    Kelopak mata enggan membuka
    Daku hanya berbaring kaku
    Berselimutkan kabut di puncak entah apa namanya

    Tjumy ( Fahmi Razaq )
    18 Mei 2011

    Leave a Comment
  • Benda Keramat STM Peninggalan RMR 18

    11794535_10203713700717862_2741171815435892980_o

    Tulisan Yusran Maulid Pradana (Sebuah CATATAN Benda Keramat Peninggalan Angkatan 18)

    “Tikungan Tajam” begitulah yang tertulis di papan tersebut. Sebuah papan usang yang hampir semua warga STM pernah melihatnya. Memang, itu hanyalah sebuah papan usang yang tak berharga, tapi itu adalah sebuah penghargaan besar bagi saya dan teman-teman Rumput Liar,

    karena papan itu saya sematkan ditangkal jambu harepeun basecamp 6 tahun yang lalu (2009) dan sekarang Alhamdulillah masih menghiasi dengan indahnya. Semoga sang papan tidak dicopot sampe nanti anak cucu saya bisa melihat papan usang sarat makna tersebut. (Lebay aih).

    Papan itu memiliki banyak kenangan bagi saya, jika papan itu bisa ngomong pasti setiap saya melewatinya dia akan berkata “Heh siah maneh budak kasep, anterkeun urang balik, geus mangtaun-taun urang nangkel ditangkal jambu ieu, ningali maneh ti keur bolon nepi ayeuna geus boga budak.

    Anterkeun urang balik buruuu…” Mungkin kira-kira begitu kata-kata si papan usang nan sarat makna tersebut, karena papan itu adalah warga asli gunung Patuha. Sebuah gunung Purba yang masih eksis, yang jalurnya melewati kawah putih Cidewey, eh Ciwidey. Saya dan rekan-rekan RMR sengaja memboyong papan tersebut dengan usaha yang cukup keras mengarungi hutan lebat, sungai, jurang, tebing operheng dan angkot-angkot Ciwidey – Lw.Gajah untuk menghiasi STM, khususnya pekarangan basecamp agar ke-Purba-an Gunung Patuha (*bahasa naon atuh euy) dapat dimiliki juga oleh barudak penghuni basecamp. Dan Alhamdulillah, basecamp sampai sekarang selalu terlihat seperti sebuah gua yang dihuni oleh para manusia purba Hahahhha…

    Terlepas dari celotehan diatas yang mungkin hanya bisa dimengerti para Jenius, sya sungguh merasa dihargai dengan masih nangkelnya papan usang nan sarat makna tersebut.
    Terimakasih pihak Lingkungan Hidup STM.
    Terimakasih para anggota muda. (mun dicabut ku urg kepretan hiji-hiji Omat ! )

    pic by : Febi Gelar Ramadhan
    Yusran Maulid Pradana
    29 Juli 2015

    Leave a Comment
  • Para Petualang

    550165_2765427186638_1681028703_n

    Kami para petualang
    Di depan untuk menunjukkan jalan
    Di belakang untuk menjamin kelengkapan
    Ataupun di tengah untuk menyambung para lisan

    Biarkan kami bukan elok burung menyanyi
    Bukan syahdu alam berdendang
    Bukan pula batu yang diam
    Kami petualang tidak berada dalam sarang
    Kami melangkah walau dengan terpapah

    Jalan setapak yang kami lalui
    Tak menandakan fikiran setapak di otak kami
    Kabut dingin yang selalu menemani
    Bukan berarti dingin hati yang tak tertangani

    Kami para petualang
    Erat bagai akar yang menjerat
    Membara walau api unggun tak pernah ada
    Sejuk bagai kabut menyelimuti ketinggian

    Lembah kenangan di bawah langit yang sama
    Langit dimana kami di bawah
    Lembah dimana kami merendah
    Telanjang setelanjangnya
    Bulat sebulat-bulatnya

    Tjumy
    Rakutak 0412

    Leave a Comment
  • Pendaki Gunung Dan Pecinta Alam

    IMG_4947

    Seorang pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung.

    Para pendaki tidak memiliki motivasi lain selain hanya sekedar melakukan kesenangannya sendiri yakni mendaki gunung, mencari ketenangan, udara segar, kebersamaan atau menikmati keindahan alam, baik secara individu maupun secara berkelompok.

    Sedangkan seorang Pecinta Alam adalah orang yang hidupnya benar – benar tidak bisa lepas dari alam, ciri – cirinya orang ini tidak akan betah untuk berlama – lama tinggal di keramaian kota yang padat, bising dan penuh polusi, mereka serasa tak bisa hidup bahagia jika tidak bercengkerama dengan alam dan jangan coba – coba mengekang mereka karena mereka memiliki jiwa yang sangat bebas, pemberontak dan sulit dipahami.

    Namun mereka memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, tidak sombong, supel, ramah dan tak pernah putus asa sebagai buah dari hasil didikan sang alam.

    Antara pecinta alam dan pendaki gunung sebenarnya memiliki kesaman, yakni sama – sama termasuk ‘orang – orang yang mencintai alam’. Namun kadar mencintai alamnya itulah yang membedakan diantara keduanya.

    Seorang pendaki gunung, mencintai alam hanya pada bagian luarnya saja, mereka sudah cukup puas jika bisa melihat, mendengar atau merasakan suasana alam dan tidak memiliki semangat untuk menjaga kelestariannya.

    Sedangkan pecinta alam, mencintai alam secara total, baik unsur luarnya maupun unsur didalamnya seperti halnya apabila seseorang mencintai orang yang dicintainya, tentu ada yang mencintai hanya karena fisiknya, karena hatinya atau bisa karena keduanya.

    Nah para pecinta alam ini adalah orang – orang yang mencintai alam baik karena fisiknya maupun karena hatinya.

    Bagaimana kita bisa mencintai hati sang alam? Yakni dengan mencintai sifat – sifat alam seperti: Sifat alam yang sangat sulit ditebak karena terkadang bisa menjadi sahabat dan ada kalanya bisa menjadi musuh yang sangat kejam, namun sesungguhnya alam hanyalah makhluk Tuhan yang pendiam dan sangat rapuh.

    Para pecinta alam adalah orang – orang yang mencintai alam disaat sedang bersahabat ataupun disaat sedang rapuh dan tak bersahabat.

    Dari penjelasan tersebut, ternyata pecinta alam dan pendaki gunung sebenarnya memilki perbedaan meskipun keduanya juga memilki kesamaan.
    Untuk lebih mempermudah pemahaman, berikut adalah contoh nyata:
    Apabila di sebuah gunung telah terjadi tanah longsor, pembukaan lahan, penggundulan, atau kebakaran hutan yang menyebabkan gunung menjadi gersang, panas dan tak nampak indah lagi.

    Maka para pendaki gunung tidak akan tertarik lagi untuk datang dan mendaki gunung tersebut, karena secara fisik gunung tersebut sudah cacat.

    Namun bagi para pecinta alam keadaan gunung yang seperti itu membuat mereka resah dan merasa bahwa gunung tersebut sedang terluka parah dan secepatnya harus diobati dengan segera melakukan penghijauan kembali. Itulah salah satu contoh orang yang mencintai alam secara total.

    Pada saat sama – sama melakukan pendakian gunung, para pendaki gunung hanya memiliki satu tujuan yakni mendaki gunung sampai meraih puncak tanpa menghiraukan sampah – sampah yang ditemuinya atau bahkan mereka sengaja membuang sampah – sampah mereka sendiri secara sembarangan karena merasa sampah hanyalah beban.

    Sedangkan pecinta alam yang sedang mendaki gunung, puncak bukanlah satu – satunya tujuan karena tujuan utama mereka adalah perjalanan itu sendiri.

    Para pecinta alam tidak akan membuang sampah sembarangan dan mereka tak akan segan untuk mengumpulkan setiap sampah yang ditemuinya karena mereka paham betul akan bahaya sampah bagi kelestarian alam.

    Pendaki Gunung Dan Pecinta Alam adalah orang yang memiliki kepribadian yang berbeda karena tujuan mereka juga berbeda.

    Tidak perlu menilai mana yang lebih baik diantara keduanya, sebab jauh lebih baik jika kita memilih menjadi pendaki gunung yang pecinta alam.

    Sumber dikutip dari artikel Belantara Indonesia

    Administrasi STAMPARA
    Bandung, 06 April 2016
    BS

    Leave a Comment
  • [STAMPARA@23] Balada Para Pria Kesepian “Lumpur Tandus”

    Screenshot from 2016-04-05 09-46-46

    Dokumentasi kepengurusan Angkatan 23, terdiri dari anggota para pria, pendidikan dengan medan berlumpur yang mulai mengering, Lumpur Tandus dalam kenangan “Kepengurusan”

    Leave a Comment
  • Ang War – Sosok Inspirasi STAMPARA

    529444_3137016156130_364964306_n

    Ketika sosok itu berada dekat ini –mata-
    Singgasana menjadi dingin
    Dinginnya, dinginku?
    Ya kami dingin

    Terbayang angkuh jiwa dari muka
    Mungkin dia
    Ragu bertanya tentang sosok –dia-
    Coba tengok pada mereka

    Himpun nyawa
    Sapa, tanya
    Siapa anda?

    Tarikan –bibir- membuat prasangka sirna
    Inikah sosok anda?
    Tak sangka ramah dada terkubur didalamnya
    “perkenalkan Angwar”

    Bercakaplah tentang alam
    Bercakaplah tentang gunung
    Bercakaplah tentang rimba
    Bercakaplah tentang cinta

    Guratan emosi tertanda dalam penanya
    Ia senang berarus dalam tinta
    Mengalir dalam kata
    Tenggelam dalam karya

    Ia katakan bahwa lelaki harus…
    Ia katakan bahwa cinta bukan dunia
    Ia katakan bahwa karya tak harus lara
    Dan
    Ketinggian milik kita

    Umurnya tak akan kembali
    Tapi lihatlah angannya tentang aksara
    Ia saling membunuh dengan waktu
    Ia bercengkrama dengan hidup

    Diajarkannya tentang belantara
    Dilihatnya tentang manusia
    Dilumatnya segala derita
    Dibangkitkannya setiap bara

    Ia tak mengajarkan bagaimana mendirikan pena
    Menegakkan kata, menari diatas kanvas
    Tidak pula berceloteh tiap kisah
    Ataupun menghabiskan bercarik kertas

    Ia mengajarkan bagaimana mendengar dan membaca
    Hingga lahirlah karya
    Maukah anda saya perkenalkan dengan guru sederhana?
    Ang War namanya

    Sumber = Catatan Fahmi Razaq
    STAMPARA (STM Pembangunan Penjelajah Rimbaraya)
    5 Juli 2012

    Leave a Comment
  • Apakah Negeri Ini Masih Butuh Kelompok Pecinta Alam ? ‪

    12524139_1176075972416001_7925515528500026671_n

    [CATATAN Kang Yat Lessie]
    SEBUAH TANDA TANYA BESAR….
    APAKAH NEGERI INI MASIH BUTUH KELOMPOK PECINTA ALAM ?

    Saya yakin …
    Jawabannya akan terbelah dua. Satu kutub mengatakan iya, sebelahnya pasti kontra.
    Argumen yang paling logis yang mendasari sang jawaban adalah aspek manfaat. So .. pertanyaannya semakin dalam … apakah, keberadaan kelompok PA membawa manfaat bagi negeri ini atau tidak ?Jika bermanfaat dijamin eksistensinya, jika tidak, silahkan balik kanan dan bubar jalan …

    Manfaat …
    menjadi aspek paling krusial. Apalagi jika hal ini dibawa ke masyarakat umum, yang paham, setengah awam dan semasekali tak ada urusan.
    Yang paham, segera akan menunjukan aspek manfaat ini pada kejadian berskala besar. Setiap bencana tiba, maka kelompok PA ini selalu digarda terdepan. Mulai dari mitigasi, rescue sampai evakuasi korban. Mulai dari model tsunami dan gempa, atau sekelas jatuhnya pesawat model sukhoi di Gn Salak tempo hari.
    Yang setengah awam, baru ngeuh saat bencana datang . Seraya bergumam, oooh, itu anak anak PA ya, yang tengah memunguti kepingan bangkai manusia …
    Yang tak ada urusan , setiap bencana , paling hanya ikut berkata, … saya ikut prihatin. Peduli setan siapapun yang terjun ke lokasi musibah. Tak ada pengetahuan apalagi urusan.

    Mari kita petakan ke masyarakat kita .
    Berapa prosen yang paham, semi awam dan tak ada urusan …
    Saya yakin, yang paham menempati ranking terendah, alias cuma segelintir kecil saja. Yaitu mereka yang pernah merasakan secara langsung, dan mempunyai pengalaman realitas nyata tentang berkegiatan di alam terbuka.
    Kelompok kedua adalah yang semi awam. Mereka hanya tahu secara selentingan, baca dikoran, atau nonton film adventure. Bisa juga penggemar kisah2 adventure-tainment di TV nasional. Yang juru lakonnya montok bahenol dengan wajah indo diatas rata rata.
    Yang terbesar, justru kelompok yang tak ada urusan. Tidak mau tahu persoalan, menyelesaikan masalah cukup dengan kata aduh kasihan.

    Yang lebih mengerikan …
    Tarik aspek ini ke lembaga pemerintahan, dimana jabatan, regulasi dan sistem kekuasaan dijalankan … Mari kita kumpulkan dari presiden , menteri, sampai pejabat tingkat eselon terendah. Plus para pejabat di daerah, Lalu tambahkan mereka para wakil rakyar di DPRD maupun DPR pusat. Lalu kembali kita petakan, antara paham, setengah awam dan peduli setan tak ada urusan.

    Tergambar petanya ?
    Bagaimana para pemimpin negara ini memahami manfaat keseluruhan….
    Pemimpin negeri, mestinya adalah seorang achiever. Seorang yang berkarakter yang berjiwa pioneer dan achievement oriented. Yang dengan kecerdasan dan kebijakannya, sanggup membuat solusi yang bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya. Saya sebut saja, layaknya Habibie. Menjadi wakil presiden direktur pabrik pesawat terbang. Di negerinya para orang pintar, sekelas Jerman. Dia naik karena memang berprestasi. Karena kecerdasanya memang diakui. Sekali lagi karena jiwa pioneeringnya !!!.

    Di negeri ini ?… seorang naik , lebih sering bukan karena prestasinya. Bukan karena achievement, namun karena adanya afiliation, alias kedekatan, kekerabatan, kedinastian, perkawanan, plus bumbu pemanis upeti tentunya. Penunjukan dengan cara influence, alias kekuatan pengaruh. Baik pribadi maupun back up kelompok masa dibelakangnya. Yang konon sudah mengakar secara sah pada konstitusi , sebut saya partai politik. Atau cuma segerombolan massa, yang memberi label pada dirinya sendiri.

    Pemimpin yang berorientasi pada pencapaian / achievement oriented, menjadi barang langka. Jikapun ada, di cap anti mainstream, kemudian terkucilkan dari sistem. Sementara yang naik pentas ke panggung-panggung kekuasan, adalah mereka yang punya kedekatan pada pihak yang berpengaruh ( affiliation dan influence ).

    Hasilnya ? … jadi bikin geli !
    Baru sebulan terpilih, seorang bupati ditangkap gara gara pesta sabu dan ekstasi
    Sekumpulan politisi, masuk bui, gara gara nerima sogokan dari calon gubenur BI
    Seorang Menpora yang setengah mati ingin membubarkan PSSI, anaknya sendiri
    Tokoh indpenden dipersulit karena takut menyaingi calon politisi dari partai sendiri
    Para tokoh anti korupsi, satu demi satu masuk bui karena dikriminalisasi
    Dasar falsafah negara, dikatakan bebek nungging, kata seorang selebriti
    Jadi wajar pula, bila dedemit kunti ketawanya semakin nyaring … hi hi hi hiiiii
    Sementara kening semakin berkerut karena nyaris frustasi

    Frustasi .. ?
    Jauh jauh hari, seorang ahli psikososial kenamaan David McLeland menyatakan : … Untuk negara yang tengah berkembang secara ekonomi, maka dibutuhkan 2 syarat pokok, yaitu adanya sekelompok masyarakat yang achievement oriented dan tumbuhnya ke wira-usahaan. Keduanya syarat tadi, basisnya hanya satu, yaitu adanya … jiwa pioneer !!!

    Achievement oriented, jiwa pioneer , hanya laku dijual pada acara acara TV model kick andy, Sarah Sechan, hitam putih, dll. Pewawancara, nara sumber, dan sejumlah penonton di studio. Semua berdecak kagum diselingi tgepu tangan, atas usaha dan capaian jerih payahnya. Wajah wajah yang sederhana, apa adanya, enggan untuk mempublikasikan diri, berhasil karena dukungan orang lain, dll. Sebuah pesona yang unik, menyertakan aura alamiah.

    Namun, berbeda dengan acara debat para politikus, atau calon pemimpin. Yang naik karena kedekatan dan pengaruh. Muka dipasang garang, urat leher kencang, eloe mesti tau siape gue, eloe semua mesti biang keliru, sementara gue bak anak dewa. Padahal semua juga tahu, itu cuma akting. Sebab ketika kepentingan sudah sama, biar anak jin kalau perlu dikawinin.

    Pecinta Alam berbasis pada tujuan pioneering. Sebuah pendekatan achievement alias pencapaian dan jam terbang. Jikapun didalamnya ada pengaruh, persahabatan, kekeluargaan, keakaraban, semata karena silatulrohim. Alias berkumpul untuk saling memberi dan berbagi, dengan dasar rahman dan rahim. Sebuah konsep kesadaran dan pendekatan yang tak laku dikalangan para birokrat, yang masih mendewakan afiliasi dan influence. Bahkan jangan jangan azas pioneering alias menjadi pembeda, sudah dicap anti mainstream, sehingga pintu kriminalisasi dengan mudah dibukakan.

    Jadi ….
    Dari sisi manapun. Masyarakat yang sudah peduli setan, birokrat yang sibuk berafiliasi demi kepentingan kelompok, para pendidik yang menjual dagangan safety player. Bunyi koor nya sama …. Manfaat Pecinta alam nihil belaka … titik.
    Tak ada orang tua yang suka, anaknya dididik untuk berjiwa pioneer, generasi penerusnya untuk berkarakter militan. Karena jika ingin naik ke atas, modalnya cukup hanya lidah yang panjang untuk menjilat. Suara merdu untuk merayu, dan tentu dompet yang tebal untuk bagi bagi upeti.

    Sementara pioneering, hanya perbuatan sia sia dan buang buang tanaga…
    Padahal konon sejumlah pejabat mantan PA, konon ada mentri mantan PA, konon gubernur mantan PA, konon bupati mantan PA… tapi, seperti tak berbekas apa apa. Seperti masuk kedalam kerangkeng, seraya terbelenggu oleh arus kepentingan.

    Lalu grup PA, kelompok mapala, klub sispala, diam diam layu dan mati. Regenerasi tak lagi berjalan sebagaimana mesti. Para orang tua, para rektor, kasak kusuk berbisik bisik pada anak dan mahasiwa …. Sssst, masuk PA, elu hanya cari mati.

    Kemarin, sebuah organisasi PA di Bandung mengeluh, karena siswa hanya tinggal 1 orang, sebab ortunya tidak menyetujui. Minggu sebelumnya, bulan sebelumnya, tahun sebelumnya, dari sekian siswa tinggal segelintir kecil saja yang mampu bertahan sampai usai gunung hutan.

    Jika demikian adanya, maka yakinlah, bahwa
    Mentari yang akan muncul dan terbit esok hari
    Akan berwarna pucat lesi
    Karena gairah kepeloporan di negeri ini sudah tertikam mati
    Semangat tuk mandiri sudah perlahan berganti
    Menjadi pembebek budaya dari lain negeri

    Kecuali bagi kita
    Yang konsisten di jalan para lelaki sejati
    Yang tak berharap puja dan puji
    Kecuali manfaat bagi negeri
    dan bangsa ini …..

    Viva PA Indonesia !!!
    Catatan dipostkan melalui catatan Yat Lessie

    Leave a Comment
  • Revolusi Mental Pecinta Alam

    375563_289721817716199_1438877701_n

    BUKALAH facebook, lalu kunjungilah grup-grup pecinta alam. Namun sebelum kesana, buru-buru saya menyarankan, jangan terlalu berharap akan mendapat pencerahan melalui diskusi seru tentang pasang surut dunia pecinta alam, masalah pencemaran, illegal loging ataupun bedah wacana seputar membangun karakter bangsa. Jika itu harapan anda, bersiaplah-siaplah gigit jari.

    Pasalnya, wacana semacam itu lumayan langka diangkat di grup pecinta alam. Kalaupun ada, yang tertarik mengkritisinya hanya beberapa orang. Itupun cenderung dengan baku komentar sekenanya, dan tentu saja tak ada konklusi berbobot untuk ditindaklanjuti.
    Pemandangan yang mendominasi di grup pecinta alam – baik yang anggotanya mencapai ratusan maupun diatas dua puluh ribu orang adalah aneka rupa dagangan online. Mulai sepatu gunung berbagai merk, tenda segala ukuran, t-shirt, baju, jaket, ransel, kompas hinga ke asesoris seperti kalung logam dan gelang prusik warna-warni.
    Kemudian, di grup-grup itu juga akan terlihat rupa-rupa tawaran traveling. Mulai dari piknik ke gua-gua. wisata gunung, paket arung jeram, jalan-jalan ke hutan, bermalam di tepi danau. Bahkan sampai ke wisata kuliner lengkap dengan daftar menunya. Semua ditawarkan secara rinci sampai ke tingkatan potongan harganya.
    Pendeknya, jika datang ke grup-grup pecinta alam di dunia maya, pengunjung akan semakin mendapat pembenaran bahwa pecinta alam memang tak lebih dari komunitas wisatawan belaka, sekaligus pasar potensial untuk memasarkan aneka produk industri pariwisata serta barang-barang yang membuat pecinta alam nyaman jalan-jalan.
    Kering Makna
    Sangat mencemaskan mendapati realitas diatas. Karena aktivitas pecinta alam telah bergeser menjadi wahana hiburan untuk mengisi liburan. Bukan sebagai sarana pendidikan. Apalagi sebagai kawah yang menggodok manusia biasa menjadi yang berkarakter kuat. Padahal Pecinta alam dilahirkan, sejatinya sebagai media membangun karakter manusia.
    Faktor penting yang membuat kelompok pecinta alam begitu mudah meninggalkan “fitrahnya” sebagai media pembelajaran, untuk kemudian migrasi menjadi kelompok wistawan adalah karena kurang kuatnya menanankan akar pemahaman makna pecinta alam itu sendiri.
    Hampir semua kelompok pecinta alam – baik yang berbasis di kampus maupun di luar — menempatkan materi kepecintaalaman di daftar materi tambahan alias topik yang kurang penting di Pendidikan Dasar-nya (Diksar). Kandungan materinya hanya memuat riwayat hidup kelompoknya lalu ditambah dengan sejarah dan pengetahuan kepecintaalaman yang bersifat umum. Itupun disampaikan sekenanya dan nyaris tanpa pembahasan menyeluruh apalagi mendalam.
    Sementara, materi fisik semisal mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram dan lain sebagainya, di tempatkan di posisi materi pokok yang tentu saja disampaikan secara utuh, durasi lebih lama serta dilengkapi simulasi di lapangan. Peserta Diksar diwajibkan mengikuti materi ini secara utuh dan lengkap. Bahkan agar fokus tak jarang peserta yang tak serius diganjar dengan push up, scoth jump ataudihukum lari-lari mengitari area tempat materi praktek.
    Efek jangka panjang dari skenario penempatan materi penting – tidak penting seperti diatas, akan membuat setiap pecinta alam akan berpersepsi bahwa kegiatan fisik – mendaki, manjat itu – merupakan roh kegiatan pecinta alam. Karenanya harus diutamakan dan didominankan. Inilah yang kemudian membuat pecinta alam lebih termotivasi menjadi pemanjat tebing yang lincah, penjelajah gua yang penuh waspada atau malah menjadi pendaki konyol yang berani mati.
    Persepsi itu tentu keliru, dan karena berangkat dari keliru persepsi itu pula, pecinta alam dalam melakukan aktivitas alam bebasnya terbatas pada tataran fisik semata. Pecinta alam ke gunung hanya karena ingin mendaki. Berkompetisi mendatangi puncak tertinggi. Demi kejayaan nama kelompoknya semata. Atau menjadi turis penikmat alam seperti yang disinggung diatas.
    Mereka tidak menyertakan misi edukasi di setiap misinya ke gunung, ke tebing, ke gua atau ke arus sungai liar. Akibatnya, bergiat di alam menjadi aktivitas yang kering makna, tanpa pemahaman filosofis, serta terputus dari kontribusi membangun karakter positif pelakunya. Inilah yang dikecam pendaki dunia kelas seven summit asal kanada Pat Morrow.
    “Mereka tidak belajar apa – apa dari pendakiannya sendiri”, kecam Pat kepada pendaki yang cuma menganggap naik gunung sebagai aktivitas fisik belaka, jalan-jalan atau lebih parah lagi, sebagai upaya penaklukkan terhadap alam.
    Membangun Karakter
    Sesuai dengan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
    Kendati Kode Etik Pecinta Alam lebih dulu lahir, tepatnya 1974, namun agenda yang diusungnya berdekatan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional tersebut, yaitu melahirkan manusia berkarakter baik, religius serta kental dengan semangat pengabdian dan spirit perdamaian. Agenda besar ini tidaklah mengada-ada, karena, seperti yang disampaikan Ki Hajar Dewantara : pendidikan dapat diperoleh melalui sekolah, keluarga dan pergerakan. Kegiatan kepencintalaman merupakan wadah pendidikan berbentuk pergerakan tesebut.
    Dengan pergi ke alam, pecinta alam akan belajar berbagai hal. Belajar mengenal diri sendiri, orang lain, lingkungan serta belajar mengenal tanah air sekaligus memahami rakyatnya. Seperti yang disampaikan pendiri pecinta alam, Soe Hok Gie, “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”.
    Senada dengan Soe Hok Gie. Pendaki kaliber internasional asal Itali Walter Bonatti juga berpendapat alam merupakan tempat belajar yang baik. Aku percaya kata Bonatti, bahwa, “Alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar kita. Karena itu aku percaya bahwa gunung beserta hukum-hukum yang ada padanya merupakan sekolah yang baik untuk mengubah watak manusia”.
    Dengan demikian, mereka yang beraktivitas di alam bebas, akan berkarakter baik sehingga memiliki kesadaran untuk mengabdi kepada Tuhan, bangsa dan tanah air. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya. Berusaha mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam sesuai asas pecinta alam. Berusaha saling membantu serta saling menghargai pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa. (Kode Etik Pecinta Alam).
    Reorientasi Makna Pecinta Alam
    Karena sudah sangat terang benderang bangsa ini mengalami degrdasai mental. Sekarang ini, aksi kepedulian kepada sesama dan lingkungan hidup menjadi sebuah tindakan yang dianggap aneh. Sikap saling menghargai dan semangati menjadi sesuatu yang makin sukar ditemukan di kehidupan sehahttp://www.stampara.or.id/wp-admin/post-new.phpri-hari. Bahkan, bersikap jujur dinilai sebagai perilaku menyimpang.
    Dengan membangun manusianya maka disetiap jiwa anak bangsa akan tersemai karakter positif yang ditandai dengan adanya sikap, perilaku dan budi pekerti yang baik. Misalnya bersikap ksatria, religius, jujur, saling menghormati, tidak cepat putus asa, sopan dan santun, peduli, rela berkorban, serta berpikir ke depan untuk kemajuan bersama.
    Terhadap gerakan revolusi mental, sepantasnya pecinta alam mendukung secara proaktif. Pecinta alam sendiri mentalitasnya sudah tergerus sehingga kegiatannya tak lagi mencerminkan aktivitas membangun karakter seperti yang dulu digagas Soe Hok Gie.
    Agar dukungan nyata tersebut berjalan optimal, maka tindakan dasar yang harus dilakukan pecinta alam adalah melakukan revolusi mentalnya sendiri dulu, dan aksi ini dapat diawali dengan reorientasi atau pemahaman kembali makna pecinta alam. Karena bagaimana akan berkontribusi memperbaiki mental bangsa jika pecinta alam masih menjadi bagian dari krisis mental itu sendiri.
    Reorientasi dapat dimulai dengan pertama, menjadikan materi kepecintaalaman sebagai menu utama Diksar. Kandungan materinya tidak parsial, namun harus holistis, mulai dari gagasan awal yang menjadi embrio lahirnya pecinta alam, visi dan misi ke depan, pergolakan pemikiran di kalangan pecinta alam Indonesia, hingga ke dinamika organisasi tempat pecinta alam peserta DIKLATSAR bergabung.
    Pecinta alam haruslah memahami sejarahnya secara komplit, baik dan benar, karena seperti yang dikatakan Koentowijoyo, dengan belajar sejarah seseorang akan senantiasa berdialog antara masa kini dan masa lampau sehingga bisa memperoleh nilai-nilai penting yang berguna bagi kehidupannya. “Nilai-nilai itu dapat berupa ide-ide maupun konsep kreatif sebagai sumber motivasi bagi pemecahan masalah kini dan selanjutnya untuk merealisasikan harapan masa yang akan datang”, begitu kata Koento.
    Materi Kepecintalaman hendaknya disampaikan secara dogmatis, ini dimaksudkan agar “faham” pecinta alam benar-benar dipahami dan mengakar kuat di diri pecinta alam, sehingga menjadi pola pikir dan “jiwa korsa” dalam beraktivitas di alam bebas. Lalu adakan pendalaman materi yang diperkaya dengan diskusi-diskusi serius yang berbobot. Tujuanya untuk merangsang lahirnya gagasan-gagasan baru yang berangkat dari kerangka pikir pecinta alam yang mungkin lebih kreatif dari gagasan yang pernah ada sebelumnya.
    Kedua, di setiap aktivitas fisik mutlak pula dimuati dengan edukasi yang mengarah kepada pembangunan karakter. Kemudian di evaluasi setiap pendakian, pemanjatan dan sebagainya tidak sebatas berkutat di seputaran masalah teknis kegiatan. Melainkan dilebarkan hingga menyentuh kemampuan menggali makna-makna tersembunyi dari rangkaian proses aktivitas fisik tadi.
    Hal itu dimaksudkan agar pecinta alam tidak saja mahir beraktivitas, melainkan juga cerdik menyiasati situasi dan cerdas membidik persoalan dari sudut pandang yang tidak umum. Mampu menguasai emosi dalam kondisi apapun. Terbiasa cepat mengambil keputusan taktis di situasi ekstrem. Serta mengasah kemampuannya membangun team work yang efektif dan efisien. Ketiga, melihat agenda besar dan tanggung jawab yang diemban pecinta alam, maka menjadi penting pula dilakukan penambahan pengetahuan di luar ilmu baku kepecintaalaman. Misalnya pengetahuan geografi, biologi, sosiologi, hukum lingkungan, metode penelitian, leadership dan sebagainya termasuk pengetahuan praktis menulis dan photografi.
    Karena jamak terjadi, jika sebuah persoalan – ekonomi misalnya – tak akan dapat terpecahkan secara tuntas jika hanya menggunakan disiplin ilmu ekonomi saja. Perlu pendekatan disiplin ilmu lainnya. Sama halnya dengan pecinta alam, agar aktivitasnya berjalan tanpa kendala, berandil terhadap pembangunan bangsa, memberikan sumbangan pemkiran kepada dunia keilmuan, serta mampu berpartisipasi di wilayah praksis untuk memecahkan persoalan rakyat. Maka memperlajari disiplin ilmu lain menjadi sebuah keharusan.
    Pungkas Wacana
    Memang belum ada sensus spesial untuk menghitung jumlah kelompok pecinta alam di Indonesia. Namun, karena hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia memiliki Unit Kegiatan Pecinta Alam, jumlah pecinta alam di Indonesia, pastilah besar. Belum lagi jika ditambah dengan kelompok Pecinta alam yang bermarkas di luar Kampus serta di tingkatan Sekolah Pertama dan Menengah. Jumlah pecinta alam di Indonesia pastilah mencapai angka ribuan. Angka yang tidak kecil.
    Diharapkan, melalui reorientasi tadi, penguatan edukasi di setiap kegiatan fisik serta pengayaan pengetahuan di luar basik kepecintaalaman, maka pecinta alam secara mental tentunya akan memiliki jangkar karakter yang kuat. Tidak menjadi kelompok besar bermental kecil. Kelompok yang selalu melihat kelompok lain sebagai pusat teladan, tanpa menyadari dan menghargai kelebihan-kelebihan kelompoknya sendiri. Atau sebaliknya,kelompok yang mengembangkan mentalitas jago kandang yang menolak belajar dari kelebihan kelompok lain.
    Dengan tiga upaya itu pula, aktivitas pecinta akan menjadi wadah ideal untuk olah pikir, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Sehingga pecinta alam bukan hanya mengembalikan jati dirinya ke gagasan awal leluhurnya, namun dalam cakupan yang lebih luas pecinta alam secara otomatis telah pula memberikan sumbangsih terbaiknya dalam berpartisipasi menyembuhkan penyakit mental bangsa ini. Sebuah kontribusi yang sangat bermanfaat dalam mewujudkan cita-cita kolektif bangsa ini untuk hidup lebih baik di masa depan.
    Tentu saja happy ending demikian akan terwujud jika pecinta alam mengubah dirinya. Jika tidak, ceritanya tentu akan lain. Karena, seperti kata Einsten, “Jangan mengharapkan hasil berbeda jika tetap menggunakan cara lama”.(AS)
    Catatan ini dipost ulang dan dikutip dari artikel kompasiana 31 Oktober 2014
    Bandung, 24 Maret 2016
    B. Suryani

    Leave a Comment
  • Meminimalisir Penggunaan Plastik Di Gunung

    photo298795287486507081

    Dalam pendakian gunung sering kali kita hanya fokus pada peralatan dan equipment pendakian lainnya, dan untuk logistik membawa bekal yang disuka atau sesuai selera, yang biasanya banyak makanan instant yang dibeli dari supermarket atau toko dan warung-warung terdekat. Sudah jelas bahwa makanan tersebut terbungkus oleh wadah aslinya yaitu kebanyakan adalah plastik-plastik.

    Dalam suatu kesempatan penulis mengunjungi kembali tempat yang sudah tak asing lagi untuk sekedar bersua dan “niis” anak-anak STAMPARA biasanya, yaitu di “Singgasana” suatu puncakan bukit kebun teh yang ada di Sukawana, daerah cisarua Lembang.

    Saat datang lagi kesana ada yang beda dari tempat yang sering kamu kunjungi tersebut, yaitu banyak sekali nyamuk dan lalat hijau yang berterbangan. Kebetulan malam hari kami kesana jadi ditengah kabut yang sedikit lebat pandangan kami agak kurang bisa melihat hal-hal tersebut namun memang sungguh terasa, karena memang sesering-sering nya kami kesana biasanya sangat jarang sekali ada nyamuk sebanyak itu dan apalagi ditambah Lalat hijau yang notabene nya suka sekali hinggap ke tempat yang jorok-jorok.

    Saat pagi menjelang karena penasaran kami telusuri ternyata datangnya nyamuk dan lalat hijau nya tersebut berasal dari tumpukan sampah yang berserakan, memang karena hujan yang mengguyur yang tertampung oleh plastik yang ada seperti botol, kresek, gelas aku bekas, kaleng sarden, bungkus mie,dll sangat banyak berserakan sehingga banyak nyamuk yang hinggap, dan bekas makanan basah yang tersisa pun menjadi tempat lalat hinggap hingga sangat jijik dilihatnya.

    IMG_9858

    Salah satu tumpukan sampah

    Untuk hal tersebut memang harus dimulai dari diri sendiri seperti hal untuk sadar tentang kecintaan dalam lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, dan yang terpenting menanamkan keyakinan diri bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman” dimanapun, kapan pun, dan dilakukan oleh siapapun.

    Setelah dipikir-pikir untuk menanggulangi hal tersebut bisa saja diminimalisir dengan cara “Meminimalisir Pengguaan Plastik Di Gunung”. Hal tersebut bisa saja dilakukan dari penggunaan dan fungsi dari keseluruhan barang-barang dan logistik yang kita gunakan. mari kita review secara singkat :

    1. Penggunaan Botol untuk tempat minum.
      Untuk penggunaan botol tersebut memang tidak bisa dipungkiri karena air memang sangat dibutuhkan saat kita pendakian, namun kembali untuk minimalisir penggunaan plastik kita bisa mengakalinya dengan menggunakan botol minuman seperti tupperware atau lainnya. Dan untuk air mentahnya kita bisa menggunakan jerigen kecil sehingga nantinya tidak akan dibuang dan kita bisa gunakan kembali.
    2. Gelas pelastik untuk sekali pakai.
      Biasanya untuk menikmati malam ngopi atau sekedar ngeteh hangat malam hari memang sangat nikmat sekali dipegunungan, namun sering kali pendaki menggunakan gelas plastik sekali pakai yang dirasa lebih ringan dan sesudahnya dibuang, sehingga menimbulkan sampah kembali, sebaiknya bisa menggunakan gelas yang dibawa dari rumah sehingga sesudah penggunaan pun nanti kita bawa balik kembali.
    3. Bungkus makanan instan dan minuman sachet.
      Nah, kebanyakan sampah yang dihasilkan adalah dari bungkus makan atau minuman dari logistik yang sering dibawa pendaki yang sesudahnya dikumpulkan namun lupa untuk dibawa turun sehingga menumpuk digunung. Untuk meminimalisir tersebut seperti bahan makanan berat bisa dimasukan pada nesting atau alat masak yang memiliki rongga ditengahnya, seperti makanan lainnya bisa dimasukan ke tempat makan (misting).
    4. Plastik untuk pelindung pakaian.
      Untuk pakaian supaya tidak basah memang sering kali kita gunakan plastik untuk membungkus dan melindunginya dari hujan, jika digunakan terus hingga turun pendakian memang tak masalah namun bila pakaian sudah diganti kadang plastiknya pun jadi sampah kembali, dan hal tersebut bisa saja diakali dengan penggunaan “dry bag” yang sudah banyak dijual-jual di toko outdoor saat ini.

    Setelah membaca review diatas mungkin sebagai pembaca pasti bakal beranggapan terlalu banyak modal untuk meminimalisir penggunaan plastik tersebut karena menggunakan banyak wadah dan tidak sepraktis plastik yang sering kita gunakan.

    Namun apa yang harus kita upayakan lagi untuk tetap membuat alam kita yang kita cintai ini tetap bersih selain tetap mengusahakan menjaga lingkungan dan membawa sampah kita turun lagi ke bawah.

    Jadi teringat kembali dulu kode etik yang selalu dijunjung para pendaki namun sering kali terlupakan karena rasa malas dan lainnya, kurang lebih bunyinya seperti ini :

    Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak
    Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar

    Dan Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu

    Dan jika masih memilih ingin melibatkan plastik sebagai salah satu perlengkapan dalam pendakian, intinya satu yaitu “Bawalah kembali, dan jangan kau tinggalkan digunung”.

    Kalau bukan kita mau siapa lagi, jangan hanya ingin eksis-eksis di media sosial dan menjadi puitis mengenai alam jika masih belum memaknai apa itu kecintaan terhadap alam nya itu sendiri, karena pernah dahulu orang bijak pernah berkata “Bahwa karena cinta itu perbuatan, jadi segala sesuatu yang mengatakan cinta dan teori apapun semua itu bullshit”.

    “Mari menjaga alam kita dan lingkungan sekitarnya, cinta tak hanya dikata-kata, tapi ditunjukan oleh perbuatan dan timbul dari hati juga”
    B.Suryani (STAMPARA)
    STM Pembangunan Penjelajah Rimbaraya
    20 Maret 2016

    Leave a Comment
  • Dokumentasi Susur Sungai Angkatan 20 (Jejak Berkabut)

    Screenshot from 2016-03-17 06-54-43

    Video perjalanan pengenalan alam angkatan 20 susur sungai “Jejak Berkabut”

    Leave a Comment
  • Demo PA STAMPARA Angkatan 18 (Rumput Liar)

    Screenshot from 2016-03-17 06-49-14

    Demo Penerimaan Anggota Baru PA STAMPARA Angkatan 18

    Leave a Comment
  • Napak Tilas STAMPARA 20 Tahun

    Screenshot from 2016-03-17 06-44-24

    Video Perjalanan 20 Tahun STAMPARA

    Leave a Comment
STM Pembangunan Penjelajah Rimbaraya