Apakah Negeri Ini Masih Butuh Kelompok Pecinta Alam ? ‪

12524139_1176075972416001_7925515528500026671_n

[CATATAN Kang Yat Lessie]
SEBUAH TANDA TANYA BESAR….
APAKAH NEGERI INI MASIH BUTUH KELOMPOK PECINTA ALAM ?

Saya yakin …
Jawabannya akan terbelah dua. Satu kutub mengatakan iya, sebelahnya pasti kontra.
Argumen yang paling logis yang mendasari sang jawaban adalah aspek manfaat. So .. pertanyaannya semakin dalam … apakah, keberadaan kelompok PA membawa manfaat bagi negeri ini atau tidak ?Jika bermanfaat dijamin eksistensinya, jika tidak, silahkan balik kanan dan bubar jalan …

Manfaat …
menjadi aspek paling krusial. Apalagi jika hal ini dibawa ke masyarakat umum, yang paham, setengah awam dan semasekali tak ada urusan.
Yang paham, segera akan menunjukan aspek manfaat ini pada kejadian berskala besar. Setiap bencana tiba, maka kelompok PA ini selalu digarda terdepan. Mulai dari mitigasi, rescue sampai evakuasi korban. Mulai dari model tsunami dan gempa, atau sekelas jatuhnya pesawat model sukhoi di Gn Salak tempo hari.
Yang setengah awam, baru ngeuh saat bencana datang . Seraya bergumam, oooh, itu anak anak PA ya, yang tengah memunguti kepingan bangkai manusia …
Yang tak ada urusan , setiap bencana , paling hanya ikut berkata, … saya ikut prihatin. Peduli setan siapapun yang terjun ke lokasi musibah. Tak ada pengetahuan apalagi urusan.

Mari kita petakan ke masyarakat kita .
Berapa prosen yang paham, semi awam dan tak ada urusan …
Saya yakin, yang paham menempati ranking terendah, alias cuma segelintir kecil saja. Yaitu mereka yang pernah merasakan secara langsung, dan mempunyai pengalaman realitas nyata tentang berkegiatan di alam terbuka.
Kelompok kedua adalah yang semi awam. Mereka hanya tahu secara selentingan, baca dikoran, atau nonton film adventure. Bisa juga penggemar kisah2 adventure-tainment di TV nasional. Yang juru lakonnya montok bahenol dengan wajah indo diatas rata rata.
Yang terbesar, justru kelompok yang tak ada urusan. Tidak mau tahu persoalan, menyelesaikan masalah cukup dengan kata aduh kasihan.

Yang lebih mengerikan …
Tarik aspek ini ke lembaga pemerintahan, dimana jabatan, regulasi dan sistem kekuasaan dijalankan … Mari kita kumpulkan dari presiden , menteri, sampai pejabat tingkat eselon terendah. Plus para pejabat di daerah, Lalu tambahkan mereka para wakil rakyar di DPRD maupun DPR pusat. Lalu kembali kita petakan, antara paham, setengah awam dan peduli setan tak ada urusan.

Tergambar petanya ?
Bagaimana para pemimpin negara ini memahami manfaat keseluruhan….
Pemimpin negeri, mestinya adalah seorang achiever. Seorang yang berkarakter yang berjiwa pioneer dan achievement oriented. Yang dengan kecerdasan dan kebijakannya, sanggup membuat solusi yang bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya. Saya sebut saja, layaknya Habibie. Menjadi wakil presiden direktur pabrik pesawat terbang. Di negerinya para orang pintar, sekelas Jerman. Dia naik karena memang berprestasi. Karena kecerdasanya memang diakui. Sekali lagi karena jiwa pioneeringnya !!!.

Di negeri ini ?… seorang naik , lebih sering bukan karena prestasinya. Bukan karena achievement, namun karena adanya afiliation, alias kedekatan, kekerabatan, kedinastian, perkawanan, plus bumbu pemanis upeti tentunya. Penunjukan dengan cara influence, alias kekuatan pengaruh. Baik pribadi maupun back up kelompok masa dibelakangnya. Yang konon sudah mengakar secara sah pada konstitusi , sebut saya partai politik. Atau cuma segerombolan massa, yang memberi label pada dirinya sendiri.

Pemimpin yang berorientasi pada pencapaian / achievement oriented, menjadi barang langka. Jikapun ada, di cap anti mainstream, kemudian terkucilkan dari sistem. Sementara yang naik pentas ke panggung-panggung kekuasan, adalah mereka yang punya kedekatan pada pihak yang berpengaruh ( affiliation dan influence ).

Hasilnya ? … jadi bikin geli !
Baru sebulan terpilih, seorang bupati ditangkap gara gara pesta sabu dan ekstasi
Sekumpulan politisi, masuk bui, gara gara nerima sogokan dari calon gubenur BI
Seorang Menpora yang setengah mati ingin membubarkan PSSI, anaknya sendiri
Tokoh indpenden dipersulit karena takut menyaingi calon politisi dari partai sendiri
Para tokoh anti korupsi, satu demi satu masuk bui karena dikriminalisasi
Dasar falsafah negara, dikatakan bebek nungging, kata seorang selebriti
Jadi wajar pula, bila dedemit kunti ketawanya semakin nyaring … hi hi hi hiiiii
Sementara kening semakin berkerut karena nyaris frustasi

Frustasi .. ?
Jauh jauh hari, seorang ahli psikososial kenamaan David McLeland menyatakan : … Untuk negara yang tengah berkembang secara ekonomi, maka dibutuhkan 2 syarat pokok, yaitu adanya sekelompok masyarakat yang achievement oriented dan tumbuhnya ke wira-usahaan. Keduanya syarat tadi, basisnya hanya satu, yaitu adanya … jiwa pioneer !!!

Achievement oriented, jiwa pioneer , hanya laku dijual pada acara acara TV model kick andy, Sarah Sechan, hitam putih, dll. Pewawancara, nara sumber, dan sejumlah penonton di studio. Semua berdecak kagum diselingi tgepu tangan, atas usaha dan capaian jerih payahnya. Wajah wajah yang sederhana, apa adanya, enggan untuk mempublikasikan diri, berhasil karena dukungan orang lain, dll. Sebuah pesona yang unik, menyertakan aura alamiah.

Namun, berbeda dengan acara debat para politikus, atau calon pemimpin. Yang naik karena kedekatan dan pengaruh. Muka dipasang garang, urat leher kencang, eloe mesti tau siape gue, eloe semua mesti biang keliru, sementara gue bak anak dewa. Padahal semua juga tahu, itu cuma akting. Sebab ketika kepentingan sudah sama, biar anak jin kalau perlu dikawinin.

Pecinta Alam berbasis pada tujuan pioneering. Sebuah pendekatan achievement alias pencapaian dan jam terbang. Jikapun didalamnya ada pengaruh, persahabatan, kekeluargaan, keakaraban, semata karena silatulrohim. Alias berkumpul untuk saling memberi dan berbagi, dengan dasar rahman dan rahim. Sebuah konsep kesadaran dan pendekatan yang tak laku dikalangan para birokrat, yang masih mendewakan afiliasi dan influence. Bahkan jangan jangan azas pioneering alias menjadi pembeda, sudah dicap anti mainstream, sehingga pintu kriminalisasi dengan mudah dibukakan.

Jadi ….
Dari sisi manapun. Masyarakat yang sudah peduli setan, birokrat yang sibuk berafiliasi demi kepentingan kelompok, para pendidik yang menjual dagangan safety player. Bunyi koor nya sama …. Manfaat Pecinta alam nihil belaka … titik.
Tak ada orang tua yang suka, anaknya dididik untuk berjiwa pioneer, generasi penerusnya untuk berkarakter militan. Karena jika ingin naik ke atas, modalnya cukup hanya lidah yang panjang untuk menjilat. Suara merdu untuk merayu, dan tentu dompet yang tebal untuk bagi bagi upeti.

Sementara pioneering, hanya perbuatan sia sia dan buang buang tanaga…
Padahal konon sejumlah pejabat mantan PA, konon ada mentri mantan PA, konon gubernur mantan PA, konon bupati mantan PA… tapi, seperti tak berbekas apa apa. Seperti masuk kedalam kerangkeng, seraya terbelenggu oleh arus kepentingan.

Lalu grup PA, kelompok mapala, klub sispala, diam diam layu dan mati. Regenerasi tak lagi berjalan sebagaimana mesti. Para orang tua, para rektor, kasak kusuk berbisik bisik pada anak dan mahasiwa …. Sssst, masuk PA, elu hanya cari mati.

Kemarin, sebuah organisasi PA di Bandung mengeluh, karena siswa hanya tinggal 1 orang, sebab ortunya tidak menyetujui. Minggu sebelumnya, bulan sebelumnya, tahun sebelumnya, dari sekian siswa tinggal segelintir kecil saja yang mampu bertahan sampai usai gunung hutan.

Jika demikian adanya, maka yakinlah, bahwa
Mentari yang akan muncul dan terbit esok hari
Akan berwarna pucat lesi
Karena gairah kepeloporan di negeri ini sudah tertikam mati
Semangat tuk mandiri sudah perlahan berganti
Menjadi pembebek budaya dari lain negeri

Kecuali bagi kita
Yang konsisten di jalan para lelaki sejati
Yang tak berharap puja dan puji
Kecuali manfaat bagi negeri
dan bangsa ini …..

Viva PA Indonesia !!!
Catatan dipostkan melalui catatan Yat Lessie